Disiplin
Beberapa bulan yang lalu, aku bersemangat sekali untuk menerapkan disiplin diri dalam menulis. Setidaknya memiliki jadwal rutin untuk duduk di depan computer dan menulis. Tapi ternyata belum sampai seminggu, jadwal itu rontok. Kupikir-pikir, apakah ini tandanya aku tidak menghargai profesi penulis? Atau apakah ini tanda ketidak-mampuanku untuk bersikap professional sebagai penulis?
Kadang aku suka berpikir dan mencari-cari jawabannya. Kucoba napak tilas kegiatanku sehari-hari. Setelah sarapan langsung meluncur ke kantor. Pulang kerumah menjelang maghrib. Praktis yang tersisa adalah malam hari. Berarti setiap malam itu yang harus kugunakan untuk menulis. Tapi kenapa selalu susah? Kembali aku berpikir dan merenungkan jawabannya.
Hmm, andai menulis itu kegiatan yang dapat dilakukan tanpa berpikir terlalu detil seperti mencuci baju atau menggoreng telur. Tanpa perlu merenungkan hal-hal seperti kenapa permukaan kulit telur ini tidak mulus, bagaimana ya menghasilkan serat benang seperti ini, atau pertanyaan-pertanyaan lain. Tidak. Kegiatan-kegiatan seperti itu terjadi sewajar dan sealamiah mungkin.
Sedangkan menulis, setidaknya buatku, merupakan kegiatan special. Kegiatan yang dilakukan dengan sepenuh hati, jiwa dan raga. Melibatkan emosi dan konsentrasi tinggi. Bukan kegiatan yang bisa dilakukan seperti robot, atau mengejar setoran. Hmm, lebih baik menulis report dan kewajiban lain yang jelas-jelas menjadi rutinitas harian.
Lantas, apa ini berarti aku tak menghargai profesi menulis? Hmm, sejujurnya, aku tak perduli. Silahkan membuat definisi berdasarkan parameter masing-masing. Tapi buatku, sekedar memiliki jadwal rutin untuk menulis tidak serta merta membuatmu menjadi professional atau mengindikasikan seberapa besar bentuk penghargaanmu pada sebuah profesi. Apakah itu berarti selalu datang tepat waktu di kantor dan pulang paling akhir akan membuatmu menjadi karyawan teladan?
Karena itu, aku memutuskan kembali menjadi diriku sendiri. Tetap berpegang teguh pada kenyamanan dan kebiasaanku dalam menulis. Masih dengan orientasiku sejak dulu. Kualitas dan bukan kuantitas.
Tapi, lagi-lagi, kualitas adalah hal yang bisa diperdebatkan berhari-hari kecuali adanya suatu kesepakatan mengenai indicator kualitas itu sendiri. Tapi dalam hal ini, cukuplah aku saja yang memiliki indicator itu, berikut justifikasi dalam setiap proses penulisanku.
Kadang aku suka berpikir dan mencari-cari jawabannya. Kucoba napak tilas kegiatanku sehari-hari. Setelah sarapan langsung meluncur ke kantor. Pulang kerumah menjelang maghrib. Praktis yang tersisa adalah malam hari. Berarti setiap malam itu yang harus kugunakan untuk menulis. Tapi kenapa selalu susah? Kembali aku berpikir dan merenungkan jawabannya.
Hmm, andai menulis itu kegiatan yang dapat dilakukan tanpa berpikir terlalu detil seperti mencuci baju atau menggoreng telur. Tanpa perlu merenungkan hal-hal seperti kenapa permukaan kulit telur ini tidak mulus, bagaimana ya menghasilkan serat benang seperti ini, atau pertanyaan-pertanyaan lain. Tidak. Kegiatan-kegiatan seperti itu terjadi sewajar dan sealamiah mungkin.
Sedangkan menulis, setidaknya buatku, merupakan kegiatan special. Kegiatan yang dilakukan dengan sepenuh hati, jiwa dan raga. Melibatkan emosi dan konsentrasi tinggi. Bukan kegiatan yang bisa dilakukan seperti robot, atau mengejar setoran. Hmm, lebih baik menulis report dan kewajiban lain yang jelas-jelas menjadi rutinitas harian.
Lantas, apa ini berarti aku tak menghargai profesi menulis? Hmm, sejujurnya, aku tak perduli. Silahkan membuat definisi berdasarkan parameter masing-masing. Tapi buatku, sekedar memiliki jadwal rutin untuk menulis tidak serta merta membuatmu menjadi professional atau mengindikasikan seberapa besar bentuk penghargaanmu pada sebuah profesi. Apakah itu berarti selalu datang tepat waktu di kantor dan pulang paling akhir akan membuatmu menjadi karyawan teladan?
Karena itu, aku memutuskan kembali menjadi diriku sendiri. Tetap berpegang teguh pada kenyamanan dan kebiasaanku dalam menulis. Masih dengan orientasiku sejak dulu. Kualitas dan bukan kuantitas.
Tapi, lagi-lagi, kualitas adalah hal yang bisa diperdebatkan berhari-hari kecuali adanya suatu kesepakatan mengenai indicator kualitas itu sendiri. Tapi dalam hal ini, cukuplah aku saja yang memiliki indicator itu, berikut justifikasi dalam setiap proses penulisanku.
7 Comments:
At 2:35 PM,
Anonymous said…
hmmm...yg udah punya bbrp buah buku bisa bingung dgn disiplin menulis apalagi yg belum...hehhehe...
bener Na, yg ptg kualitas, dan sebenernya menulis itu akan mudah utk disiplin jika kuantitas terjaga...lhaaa sama ajah ya...
ajarin saya bikin novel dong plus tips-2nya yah...yah...;)
tips-2
At 3:35 AM,
Anonymous said…
hai.. salam kenal :)
tulisannya bagus2 koqqqq...
eh.. nulis novel juga yak?
*maap.. maklum cowok ga baca novel:D*
eh iya.. piring cantik hadiah promosi buat kunjungan pertama ke blog ini mana yak? :p
At 12:51 AM,
dezz said…
hi mbak salam kenal..
terkadang menulis harus punya niat dan ide yang oke siih
At 8:29 AM,
Yulia said…
Nanaaaaa..dakuw jg kangeennn apalagi sm suara merdumu wkt karaoke..wakakakaakakakaaa..:p
Say, pokoke kl gw dtg lagi gw nuntut minta novel2 elo, maunya yg gratis dan dpt ttdnya..awas kl nggak gw gak bawain kalunggggg..bwakakakakakaa..
At 6:08 PM,
Johanamay said…
*speechless*
Wow...ternyata batak yang satu ini jago mengarang *ayam kali jago :)*
wah thanks, dah main ke blognya yoan yach kak....huhuhuhu *aku bangga nih*
-ambil saputangan-
At 9:18 AM,
ria.patria said…
Na'.. ria terusin koment yaa,
ria dah baca april cafe dr bbrpa bln yg lalu, justru yg ria blm baca dan dapet smp skrg itu 'life begins at fatty'. carinya dmna ya Na'? trus yg baru apa Na'? kabar2i ria ya Na klu ada novel baru dr kamu ;)
~hugs~
At 5:22 PM,
Anonymous said…
Hhmmm....
Kalo menurut gue yang penting adalah mood. Itu yang gue rasain selama ini, kadang banyak banget hal yang pengen kita tuangin dalem tulisan, tapi gak selalu lancar untuk dimuntahin ke dalam tulisan karena mood blom ada.
Sharing dong gimana caranya membiasakan diri untuk tereak dan numpahin isi otak ke dalem tulisan, saat mood lagi enak ataupun enggak.
Salam kenal yaaaa
Post a Comment
<< Home